Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2018

Potensi Edukatif Manusia dalam Al-Qur'an



Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang dibekali dengan potensi-potensi edukatif. Potensi-potensi tersebut yaitu pendengaran, penglihatan, dan akal (hati). Lalu dengan potensi-potensi tersebut manusia kemudian dapat mengembangkan dirinya untuk kemudian berubah menjadi lebih baik.Potensi ini kemudian jelas oleh Allah cantumkan ke dalam Ayat Al-Qur'an dalam surat An-Nahl ayat ke 78. Ayat tersebut memiliki arti:
 "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia (Allah) kemudian memberikan kamu pendengaran, penmglihatan dan hati nuranin agar kamu bersyukur."
Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa manusia sejatinya ketika terlahir di dunia pada awalnya tidak mengetahui apapun. Sejalan dengan itu, sains kemudian baru-baru ini membuktikan ke absolutan dari ayat ini. Karena pada awalnya indra yang berfungsi terlebih dahulu yaitu pendengaran, kemudian selanjutnya Allah memberikan indra penglihatan yang kemudian Allah sebutkan dalam An-Nahl ayat 78 sebagai urutan yang kedua, dan terakhir Allah memberikan akal atau hati nurani setelah manusia mampu memfungsikan kesemua indra yang dimilikinya.
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah memberikan potensi-potensi edukatif terhadapa manusia agar manusia mampu mengembangkan potensi edukatifnya uintuk terus berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Karena itu potensi edukatif ini harus kita manfaatkan agar dapat memaksimalkan diri kita sendiri. Dan tentunya hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah menikmati kenimatan yang telah Allah berikan atas segala potensi edukatif yang telah Allah berikan. 
Dari ayat ini kita juga tahu bahwa ketika bayi lahir ke dunia dalam keadaan lemah selanjutnya bayi itu berinterkasi dengan dunia luar, diberikan pendidikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar, sehingga lama kelamaan bermetformosis dari manusia yang tidak mengetahui apapun menjadi manusia yang mengetahui banyak hal. Hal ini terjadi karena manusia mengembangkan potensi edukatif dan difungsikan secara berproses dan terus menerus.
Dalam proses pembelajaran potensi pendengaran merupakan instrument yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Karena dengan pendengaran lah kita dapat mengetahui informasi dan menerimanya kemudian menerapkan hasil pengetahuannya dari pendegaran. Kemudian dengan potensi penglihatan manusia dapat membaca banyak hal dan pengetahuan baik secara terkstual dan kontekstual untuk terus berkembang. Begitu pula dengan potensi akal atau hati nuranin. Dengan memiliki akal manusia dapat memindai mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, mana hal yang harus ditinggalkan dan mana yang harus dilaksanakan, dengan semua potensi ini manusia bisa menjadi makluk yang paling unggul dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Selanjutnya dari ayat ini kita juga dapat mengatahui bahwasanya ke semua potensi yang telah Allah berikan merupakan alat agar manusia dapat mencapai dua tujuan hidup yang harus dilaksanakannya. Tujuan manusia hidup tersebut adalah untuk mengeksploitasi sebanyak-banyaknya karunia Allah yang telah Allah sediakan di dunia baik itu kekayaan alam atau hal lainnya yang ada di dunia. Pengekspoitasian tersebut dilakukan untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Jadi, tujuan hidup manusia yang pertama adalah memanfaatkan karunia Allah untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan pribadi. Lalu tujuan hidup manusia yang kedua adalah untuk senantiasa mencari keridhaan Allah untuk mendapatkan martabat yang tinggi di hadapan Allah SWT. Karena tujuan hidup inilah manusia diberikan potensi edukatif, maka sebagai umat manusia kita harus memaksimalkan semua potensi edukatif untuk dua tujuan hidup manusia yang paling utama. Jangan lupa juga untuk senantiasa bersyukur di setiap kesempatan atas segala kenikmatan berupa potensi yang telah Allah berikan kepada umat manusia, sungguh Allah merupakan dzat yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.


Minggu, 09 Desember 2018

Menyambut Ramadhan dengan Papajar Ala Masyarakat Cianjur





Assalamualaikum…
Marhaban Ya Ramadhan …

            Allhamdulilah beberapa hari puasa telah saya jalani dengan lancar, dan menyenangkan setiap harinya. Hal yang paling menarik saat saya menjalani puasa tentunya adalah saat hari-hari menyambut bulan puasa. Karena apa? Karena saya pribadi sangat menyukai bagaimana antusiame masyarakat dalam menyambut bulan yang penuh berkah ini. Apalagi ibu di rumah yang sangat semangat untuk mengolah berbagai macam bentuk masakan demi terjaganya stamina anak dan suaminya agar tetap fit di bulan Ramadhan.
            Dan hal unik yang saya alami di bulan Ramadhan tahun ini adalah berkesempatan mengikuti meriahnya Papajar. Kebetulan bulan Ramadhan kali ini, ayah saya mengajak kami sekeluarga untuk menengok kakek di Cianjur. Dan Kakek mengajak kami ke Jangari yaitu bibir danau Cirata. Disana kami naik perahu menuju sebuah perkampungan di daerah Calingcing yang merupakan komplek rumah warga apung. Disana juga ada saudara jauh saya yang memiliki rumah terapung diatas air. Pokoknya rumah itu unik karena selalu terapung diatas air, namun meski begitu keuangan warga Calingcing lumayan besar karena disetiap rumah terapung memilki usaha ternak ikan yang bisa mendapatkan profit cukup besar di setiap bulannya.
            Kembali ke tradisi papajar. Papajar menurut kakek saya memiliki arti menyambut datangnya fajar di bulan suci Ramadhan. Tradisi penyambutan fajar ini dilakukan bersama keluarga dengan bersenda gurau dan menikmati hidangan  yang dimasak bersama keluarga. Keluarga saya sendiri di Calingcing memasak ikan bakar yang ikannya diambil langsung dari ternak saudara saya. Jelas saja ikan dadakan seperti itu, ketika baru dibakar sangat enak dan segar.
            Malam harinya masih di Calincing dan terombang-ambing di atas air, keadaan di perkampungan Calingcing begitu ramai sama halnya dengan keadaan di daratan. Bahkan para warga beramai-ramai berkeliling ke seluruh penjuru perkampungan air dengan rumahnya yang bisa berpindah tempat. Pokoknya, menikmati suasana papajar di Calingcing adalah suatu pengalaman baru bagi saya, menarik dan unik.
            Benar saja kami menyambut fajar pertama di bulan Ramadhan tanpa tertidur dan terus bercengkrama bersama keluaraga, menikmati angina malam diatas perairan. Kakek saya bilang bahwa papajar di Cianjur Kota sudah jarang dilakukan mereka hanya menyambut kegiatan papajar dengan cara biasa. Yaitu masak sekeluarga seperti munggahan sehingga suasana papajarnya terasa berbeda. Tapi kalau di Cianjur kampung, para warga masih sering merayakannya dengan berangkat ke jangari atau calingcing atau obyek wisata lainnya. Dan kalau ingin tradisi papajar lebih terasa para warga biasanya berangkat sekeluarga dengan menggunakan mobil bak terbuka.
            Sebagai mahasiwa komunikasi, saya merasa bahwa tradisi seperti ini merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif. Di era modern seperti ini intensitas pertemuan antar keluarga jarang seklai terjadi, maka dari itu tradisi seperti ini harus terus diabadikan dan dilestarikan agar komunikasi dengan saudara tetap terjalin meskipun jarak rumah dengan saudara jauh. Karena kebersamaan adalah hal yang paling terlintas di pikiran ketika mengingat kata keluarga. Selain itu budaya juga jangan samapi hilang, memikirkan hal itu, aku jadi ingin terus menikmati papajar di Cianjur….

Pengalaman Magang di CNN Indonesia Jawa Barat

       Halo, aku Ai Siti Rahayu mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang mendapatkan kesempatan magang selama 2 bulan di CNN In...